Suara merdu garpu dan sendok yang sedang menari di atas semangkuk bakso yang tinggal beberapa pentol dan sedikit kuah itu sangat nyaring ditelinga. Dari kejauhan nampak riang wajah siswa dan siswi kelas XII itu saat menikmati istirahat keduanya dengan mengisi perut di kantin mang Jojo. Tak ketinggalan pula aku dan ketiga sahabat ku Bella, Nia dan Ferbri ikut meramaikan kantin mang Jojo, nyaris malah kami yang paling rame haha. Aku menemukan mereka saat aku naik di kelas XI sebelumnya aku hanya ber dua dengan sahabatku pas masih kelas X dulu, aku akrab menyapanya Be , karena beda kelas kami sudah jarang bersama, aku memahami jika dia sudah mempunyai teman atau mungkin sahabat baru, dan aku berharap dia juga memahamiku. Kini aku dan ke-tiga temanku ini selalu bersama, makanya aku menganggap mereka sahabatku, kalau mereka menganggap ku hanya seperti teman biasa toh aku gak papa .
“ Mang mang.. nambah pentolnya dua ya “ triak Febri sambil mengacungkan tangannya, dan semua pandangan beralih ke tangan itu, satu detik.. lima detik.. semua kembali seperti semula, kembali ke mangkuk mereka masing-masing. “ gila lu Feb .. serius nambahh ??” sahut Bella kaget diiringi kembalinya mang Jojo setelah menambahkan dua pentol di mangkuk Febri. Aku hanya tersenyum lalu Nia menyahut “ kayak gak tau Febri aja lu Bell “ katanya sambil menumpuk mangkuk kami bertiga, dilanjutkan menyedot teh digelasnya yang hampir tak dingin lagi karna terlalu lama dibiarkan terbuka. Febri tak menanggapi itu semua, dia hanya senyum dan melanjutkan makannya. Dua pentol tidak membutuhkan waktu yang lama bagi febri, hanya 5 detik, udah.
Jam pelajaran berlalu begitu cepat, karena ini adalah pelajaran faforitku Fisika, bukannya sok jago, awal mulanya aku dari sd sampai kelas XI aku menyukai Biologi dan lumayan gak suka fisika, karena aku gak mudeng sama fisika kelas dua, soalnya dasar dari kelas satunya aku gak ada, gurunya kurang sip kalo kataku :D, nah pas kelas tiga ini guru fisikanya sip banget, walau pas dia masuk kelas rasanya pengen pipis alias ketakutan, tapi cara neranginnya mudah nyantol di otak, eh ternyata gak Cuma aku aja yang ngerasa gitu, temen-temen yang lain juga ngerasa gitu, nah fisika enak sekarang malah gantian biologi yang gak uueeenak, gurunya makin kesini makin gak asik, dan aku kalo udah gak suka cara gurunya nyampein materi, yaudah gak suka selamanya.
*pulang sekolah*
“treeeeeeeet.... treeeeeeeeeet.... treeeeeeeeeeeeet..” tanpa disuruh kalo udah denger suara kayak gini otomatis udah, semuanya kemas-kemas lalu duduk dengan rapi, biar ketua kelas cepet-cepet mimpin do’a terus pulang deh.
“ baiklah saya akhiri assalamu’alaikum “ kata buguru faforit gue kami akrab menyapanya Bu Mar :D, “ walaikumsalam buuuu” iya Cuma kelas ku doang yang njawabnya gitu, biasalah anak lumayan alay haha.
“ ayok Fid, gue duluan ya .. “ ajak Nia sambil berlalu di depanku dengan ketawa-ketawa kecil karena kami baru saja menceritakan hal yang lucu. “ iyaa hati-hati ..” sahutku agak telat karena habis buka sms dari seseorang, tak lupa ku lambaikan tangan sambil tersenyum. Nia pun demikian. Selang beberapa manit Bella lewat “ eh gak pulang Fid? “ katanya sambil berhenti sebentar, “ pulang ini lagi nungguin Kampret “ sahutku sambil senyum malu, Bella mengangguk, lalu “ yaudah ya.. duluan dah.. “ dia mengakhiri percakapan kami sambil berlalu dan melambaikan tangan. Bella memang begitu, dia kurang humoris, tak seperti Nia, eh tapi kalo Nia dia terlalu humoris :D. Aku tak melihat Febri, ternyata dia sudah keluar dari tadi sebelum aku duduk di depan kelas ini.
Dari kejauhan aku melihat langkah kaki yang khas yang dimiliki oleh orang terkasihku setelah kedua orang tuaku . Dia Afan, orang yang telah membuatku jatuh cinta poll setengah mati sejak kami kelas X. Haha masih SMA udah maen cinta-cintaan, entah tapi aku benar-benar menyayanginya.
“ halooo sayang .. maaf lama nunggu ya, tadi tugas ekonomi Ce, sulit banget makanya lama” jelasnya sambil duduk disampingku dan meletakkan tasnya, tak ketinggalan senyumnya yang manis kayak gula jawa itu dia gelar disepanjang bibirnya yang lembut haha. Dia memanggil ku Chece, itu adalah panggilan sayangnya untukku, dan aku memanggilnya Koko. “ gapapa ko, enggak lama juga kok biasa aja “ sahutku sambil ketawa nglenyit, dia sontak mencubit hidungku sambil ketawa-tawa aneh, iya itu kebiasaannya mencubit hidungku jika kata-kataku mulai nglenyit dan slengek an, dan mungkin aku akan merindukan cubitan itu setelah kami lulus. Tentunya lulus bersama . “ ayok sayang sekarang kita mau kemana “ tambahnya setelah beberapa menit kami menertawakan hal yang sebenarnya tidak lucu :D, “ laper ko, anterin maem ya “ sahutku dengan kata-kata manja sambil narik tangannya persis kayak anak balita yang minta mainan ke Ibunya :D. Koko tak pernah membuatku kecewa, dia selalu mengiyakan ajakannku jika memang dia ada waktu, waktu luang maksudku. Dia mengangguk sambil tersenyum, tanda iya telah mengabulkan permohonanku :D.
Kami menyusuri jalan aspal ini kurang lebih selama satu menit, dan tibalah di kedai faforit kita, Selen. Seperti biasa kami duduk dan membahas topik yang kurang penting lalu tertawa-tawa bersama, beberapa menit kemudian pelayan menyodorkan daftar menu, kami diberi kesempatan untuk memilih, dan ya menu faforit kami nasi goreng spesial tak lupa seporsi kentang goreng dan minumnya jus andalan Indonesia, “Jeruk” haha. Aku meletakkan kembali daftar yang telah kami pesan ke meja kasir lalu tinggal kami menunggunya. Kantung pelajar memang hanya cukup untuk membeli nasi goreng dan kalaupun ada lebihan kami memesan kentang goreng sebagai camilan diselasela ngobrol nantinya. Tapi terkadang juga ada menu spesial yang tiba-tiba bisa kami makan, iya saat-saat itu, Afan lagi subur-suburnya wkk .
Kami pacaran sudah bisa dibilang cukup lama, dulu aku gak pernah pacaran sampai selama ini, kami hampir mencapai dua tahun,, alhamdulilah, walau sering bertengkar tapi masih bisa melanjutkan hubungan dengan baik, dan sampai sekarang.
“sayang ..” desah Afan memecahkan lamunanku, sontak aku menoleh dan tersenyum, “ kenapa? Mikirin apa hemm?? “ tanyanya cemas sambil sesekali menyentuh telapak tanganku, Afan memang seperti itu, sekiranya aku melamun, tertegun atau apalah yang intinya aku berdiam diri pasti dia langsung bingung dan berusaha mencaritahu apa penyebabnya. “ gapapa sayang .. capek aja “ sahutku sambil melepaskan genggamannya karena aku melihat di belakangnya sedang ada embak-embak pelayan yang menuju ke tempat kami, “ ini mbak mas pesanannya “ katanya ramah sambil menyodorkan dan meletakkan satu persatu pesanan kami dengan rapi, usai itu dia menganggukkan kepala sambil beranjak pergi “ makasih mbakk “ ucap Afan mengiringi langkah kaki embak pelayan tadi.
“ ayok ce dimaem “ ucapnya lagi kepadaku sambil memegang sendok garpunya. Setelah berdo’a kami melanjutkan menyantap nasi goreng panas ini, huh haah. Sambil sesekali aku menyedot ganas minuman di gelasku, Afan memandangku sambil tersenyum geli. “ kenapa ko ?” ucapku disela-sela menelan makananku, “ haha chece lucu kalo kepedesan “ timpalnya lagi sambil cekikikan menertawaiku, “ah dasar” fikirku sambil balik tertawa.
*tobecontinue :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar